Wednesday, 20 June 2018

SOLUSI DAMAI AHLU SUNNAH DAN SYIAH DI INDONESIA

SOLUSI DAMAI AHLU SUNNAH DAN SYIAH DI INDONESIA
(Kajian terhadap Buku-buku Syiah di Indonesia)

Oleh: Dr. Adian Husaini
(Peneliti INSISTS)


Pada Hari Kamis, 19 Januari 2012, Jurnal Islamia-Republika, (hal. 23-26) – Jurnal Pemikiran Islam bulanan hasil kerjasama antara INSISTS dan Harian Republika -- menurunkan kajian tentang Syiah. Artikel saya berjudul “Solusi Damai Muslim Sunni-Syiah”. Artikel Dr. Anis Malik Thoha berjudul “Syiah di Malaysia” menceritakan tentang kebijakan pemerintah Malaysia yang menetapkan Syiah sebagai ajaran sesat dan terlarang. Ada juga artikel Bahrul Ulum dari Insitut Peradaban Islam (Inpas) Surabaya, yang menguraikan tentang pandangan K.H. Hasyim Asy’ari – pendiri NU -- yang juga menyatakan, Syiah adalah ajaran sesat.

Esoknya, Jumat, 20 Januari 2012, Kajian Islamia-Republika itu mendapatkan respon dari Haidar Bagir, yang menulis artikel di Harian Republika berjudul “Syiah dan Kerukunan Umat.” Haidar Bagir menulis, bahwa dia setuju dengan solusi damai yang saya tawarkan:
“Jika kaum Syiah mengakui Sunni sebagai mazhab dalam Islam, seyogyanya mereka menghormati Indonesia sebagai negeri Muslim Sunni. Biarlah Indonesia menjadi Sunni. Hasrat untuk men-Syiahkan Indonesia bisa berdampak buruk bagi masa depan negeri Muslim ini…. Itulah jalan damai untuk Muslim Sunni dan kelompok Syiah.”

Menurut Haidar Bagir, dia pernah bertemu secara pribadi dengan Syaikh Ali Taskhiri, seorang ulama terkemuka di Iran, salah satu pembantu terdekat Wali Faqih Ayatullah Ali Khamenei, serta wakil Dar al-Taqrib bayn al-Madzahib (Perkumpulan Pendekatan antar-Mazhab), yang dengan tegas menyatakan: “hendaknya kaum Syiah di Indonesia meninggalkan sama sekali pikiran untuk mensyiahkan kaum muslim di Indonesia.” 

Haidar Bagir – Dirut Mizan, penerbit yang cukup aktif menyebarkan paham Syiah di Indonesia – memberikan imbauan di ujung artikelnya:
“Khusus untuk orang-orang yang pandangannya didengar oleh para pengikut Syiah di negeri ini, hendaknya mereka meyakinkan para pengikutnya untuk dapat membawa diri dengan sebaik-baiknya serta mengutamakan persaudaraan dan toleransi terhadap saudara-saudaranya yang merupakan mayoritas di negeri ini.”

Dalam soal sikap terhadap para sahabat Nabi Muhammad saw -- yang menjadi langganan caci-maki kaum Syiah, Hadiar Bagir juga menulis:
“Sementara itu, banyak ulama Syiah Imamiyah atau Itsna ’Asyariyah yang telah merevisi pandangannya tentang ini. Hasil konferensi Majma’ Ahl al-Bayt di London pada 1995, misalnya, dengan tegas menyatakan menerima keabsahan kekhalifah an tiga khalifah terdahulu sebelum Khalifah Ali.
Bahkan, terkait dengan skandal pengutukan sahabat besar dan sebagian istri Nabi yang dilakukan oleh oknum Syiah yang tinggal di Inggris, bernama Yasir al-Habib, Ayatullah Sayid Ali Khamenei sendiri mengeluarkan fatwa yang dengan tegas melarang penghinaan terhadap orang-orang yang dihormati oleh para pemeluk Ahlus Sunnah (fatwa ini tersebar dan dapat dengan mudah diakses dari berbagai sumber). Di antara isinya adalah, “Diharamkan menghina figur-figur/tokoh-tokoh (yang diagungkan) saudara-saudara seagama kita, Ahlus-Sunnah, termasuk tuduhan terhadap istri Nabi SAW dengan hal-hal yang mencederai kehormatan mereka ...”
(Cetak miring dari saya, Adian Husaini).

Baca selengkapnya DISINI

No comments:

Post a Comment