Monday, 19 March 2018

Metode Tafsir al-Qur'an dan Tantangan di Era Modern

Metode Tafsir al-Qur'an dan Tantangan di Era Modern

Henri Shalahuddin, MA


1. Pendahuluan
Bagi kaum Muslimin, alQur'an adalah Firman Allah SWT yang diturunkan kepada Rasulullah SAW melalui malaikat Jibril AS, kemudian diwariskan dari generasi ke generasi secara mutawatir, tertulis dalam mushaf dan membacanya adalah ibadah. 1 Namun dewasa ini, alQur'an yang menjadi pegangan utama kaum Muslimin baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial, justru dilecehkan dengan sangat sistematis. Pelecehan ini tidak hanya dari kalangan orientalis, tetapi juga berasal dari kalangan akademisi Muslim yang berprofesi sebagai dosen maupun tokoh organisasi keagamaan. Pelecahan dan hujatan terhadap alQur'an beraneka ragam, dari yang terangterangan meragukan alQur'an sebagai kitab suci, hingga dengan cara halus dengan melakukan penafsiran menyimpang dari konsep wahyu alAlQur'an yang final. Kemudian pandangan ini diajarkan di berbagai perguruan tinggi Islam. Inilah sesungguhnya tantangan umat Islam kontemporer setiap memperingati Nuzul alQur'an.

Artikel ini, penulis secara ringkas akan membahas tantangan kontemporer ilmu tafsir sebagai dampak dari gerakan liberalisasi alQur'an. Dan dilanjutkan dengan pembahasan seputar ilmu tafsir, metode, karakteristik serta jawaban terhadap aneka tuduhan terhadapnya.


2. Tantangan kontemporer terhadap ilmu tafsir
Adalah Prof. Dr. Nasr Hamid Abu Zayd, pemikir liberal asal Mesir yang kini berdomisili di Belanda setelah divonis murtad oleh pengadilan tinggi Mesir dan dikuatkan oleh 2000 ulama negeri tersebut, mengklaim bahwa alQur'an adalah produk budaya (muntaj thaqafi), fenomena sejarah (ÐÉhirah tÉrÊkhiyyah), teks linguistik (alnaÎÎ allughawÊ) dan teks manusiawi (alnaÎÎ alinsÉnÊ). Selanjutnya, dia menyimpulkan bahwa pembacaan teks-teks keagamaan (alQur'an dan Hadits) hingga saat ini masih belum menghasilkan tafsiran yang bersifat ilmiah objektif (‘ilmimawÌË‘i), bahkan masih terpasung dengan mitos (usÏËrah), khurafat dan bercorak harfiyah (literal) yang mengatasnamakan agama. Oleh karena itu, dalam mewujudkan interpretasi yang hidup dan saintifik terhadap teks-teks keagamaan, Abu Zayd menawarkan interpretasi rasional dan menekankan pentingnya kesadaran ilmiah (wa‘y ‘ilmy) dalam berinteraksi dengan teks-teks keagamaan.

Keterpasungan interpretasi yang dimaksudkan Abu Zayd adalah interpretasi yang tidak sejalan dengan tabiat dan sifat dasar teks. Baginya, corak interpretasi (tafsir) yang ada selama ini lebih menonjolkan unsur ideologi daripada unsur keilmiahan dan biasanya dimonopoli oleh kalangan fundamentalis yang mengabaikan indikasi peranan penguasa baik dalam isu-isu keadilan sosial, ekonomi maupun politik.

Interpretasi rasional yang dimaksud Abu Zayd adalah corak pendekatan interpretasi yang dilakukan oleh golongan pencerah (tanwÊriyyËn) –– atau biasa disebut sebagai golongan sekular. Sebab pada intinya sekularisme, bagi Abu Zayd, tidak lain hanyalah ajaran tentang “interpretasi realistis dan pemahaman yang ilmiah terhadap agama” (alta’wÊl alÍaqÊqÊ wa lfahm al‘ ilmÊ li ldÊn). Dengan demikian Abu Zayd merombak makna sekular dan menolak tegas tuduhan para fundamentalis Islam yang memandang golongan sekular adalah golongan yang memisahkan agama dari masyarakat dan kehidupan sosial.

Baca selengkapnya DISINI

No comments:

Post a Comment