Friday, 16 March 2018

MEMBANGUN PERDABAN ISLAM DENGAN ILMU PENGETAHUAN

MEMBANGUN PERDABAN ISLAM DENGAN ILMU PENGETAHUAN

Oleh: Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi


Marilah kita meletakkan skenario hepotesis: Jika kekuasaan Islam tidak dilemahkan dan jika ekonomi negara-negara Islam tidak dihancurkan, dan jika stabilitas politik tidak diganggu, dan jika para ilmuwan Muslim diberi stabilitas dan kemudahan dalam waktu 500 tahun lagi, apakah mereka akan gagal mencapai apa yang telah dicapai Copernicus, Galileo, Kepler dan Newton? Model-model planetarium Ibn al-Shatir dan astonomer-astonomer Muslim yang sekualitas Cipernicus dan yang telah mendahului mereka 200 tahun membuktikan bahwa sistim heliosentris dapat diproklamirkan oleh saintis Muslim, jika komunitas mereka terus eksis dibawah skenario hepotesis ini.
Ahmad Y al-Hassan

Pendahuluan
Para sejarawan modern sepakat bahwa al-Qur’an dan Sunnah memberikan kekuatan pendorong bagi bangkitnya ilmu dan peradaban Islam. Kedua sumber ini kaya dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan seperti perintah mencari ilmu, perintah berfikir, mengamati dan berzikir; pengharagaan terhadap pencari ilmu; dan menjadikan ilmu sebagai alat hidup didunia dan akherat, dan keistimewaan lain bagi pencari ilmu.

Namun, al-Qur’an dan Sunnah tidak melulu berbicara tentang ilmu, tapi juga obyek ilmu yaitu alam semesta dan subyeknya yaitu manusia. Artinya al-Qur’an dan Sunnah mengandung bakal konsep (seminal concept) tentang al-ilm, al-alim (manusia) dan al-ma’lum (alam semesta) yang saling berkaitan. Dan yang terpenting dari seluruh kegiatan keilmuan manusia sebagai al-alim (yang mengetahui) adalah keterkaitannya yang terus menerus dengan al-Aliim (Yang Maha Mengetahui). Oleh sebab itu para ulama mengartikan kata ‘aqala (berfikir, mengikat) dengan mengikat ilmu-ilmu yang kita peroleh dari pengamatan kita terhadap alam dengan al-Aliim (Sang Pencipta alam). Perintah “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang Menciptakan” mengandung arti agar kita mengkaitkan bacaan kita terhadap alam semesta ini dengan Tuhan. Tanpa mengaitkan dengan Tuhan ilmu yang kita peroleh menjadi sekuler, seperti ilmu-ilmu Barat sekarang ini. Ini menunjukkan bahwa ilmu yang menjadi asas peradaban Islam adalah ilmu yang terikat pada Tuhan, ilmu yang teologis dan bukan ilmu yang sekuler.

Baca selengkapnya DISINI

No comments:

Post a Comment