Monday, 12 March 2018

Kritik Terhadap Gagasan Titik-Temu Antar Agama

Kritik Terhadap Gagasan Titik-Temu Antar Agama
Adnin Armas, M.A.


Latar-Belakang 
Pada awal abad ke 20, Ananda Kentish Coomaraswamy (m. 1947) dan René Guénon (1886-1951) menghidupkan kembali nilai-nilai, hikmah, kebenaran abadi yang ada pada Tradisi dan agama-agama. Coomaraswamy menyebutnya dengan Philosophia Perennis (Filsafat Abadi). sedangkan Guénon menyebutnya dengan Primordial Tradition (Tradisi Primordial). Gagasan mengenai Filsafat Abadi atau Tradisi Primordial tenggelam dalam peradaban Barat. Ini disebabkan filsafat yang dominan adalah filsafat keduniawian. Filsafat tersebut dibangun berdasarkan pandangan hidup sekular-liberal yang meminggirkan nilai-nilai yang ada pada Tradisi dan agama-agama.

René Descartes, bapak filsafat modern, dengan prinsip aku berfikir maka aku ada (cogito ergo sum), misalnya, telah menjadikan rasio satu-satunya kriteria untuk mengukur Kebenaran. Wahyu dan Intelek dalam struktur epistemologi terpinggirkan. Wahyu dan Intelek semakin terpinggirkan dengan filsafat Immanuel Kant. Bagi Kant, manusia hanya mengetahui yang phenomena bukan yang noumena. Intelek tidak mendapat tempat dalam struktur epistemologi Kant. Sekularisasi epistemologi semakin bergulir dengan munculnya filsafat Hegel dan Marx yang menganggap realitas sebagai perubahan yang dialektis.

Guénon, yang memeluk Islam pada tahun 1912 (nama Islamnya Abdul Wahid Yahya) berpendapat sebenarnya ilmu yang utama adalah ilmu tentang spiritual. Ilmu yang lain harus dicapai juga, namun ilmu tersebut hanya akan bermakna dan bermanfaat jika dikaitkan dengan ilmu spiritual. Menurut Guénon, substansi dari ilmu spiritual bersumber dari supranatural dan transendent. Ilmu tersebut adalah universal. Oleh sebab itu, ilmu tersebut tidak dibatasi oleh suatu kelompok agama tertentu. Ia adalah milik bersama semua Tradisi Primordial (Primordial Tradition). Perbedaan teknis yang terjadi merupakan jalan dan cara yang berbeda untuk merealisasikan Kebenaran. Perbedaan tersebut sah-sah saja karena setiap agama memiliki kontribusinya yang unik untuk memahami Realitas Akhir.

Baca selengkapnya DISINI

No comments:

Post a Comment