Saturday, 10 March 2018

KONSEP WAHYU DAN NABI DALAM ISLAM

KONSEP WAHYU DAN NABI DALAM ISLAM
Oleh: Dr. Anis Malik Thoha
Assistant Professor, Head, Dept. of Usuluddin and Comparative Religion, KIRKHS, IIUM


Hampir semua agama besar dunia, khususnya yang sering disebut “agama-agama semitik” (Yudaisme, Kristianisme, dan Islam) yang memang disebabkan latar-belakang sejarah dan “nasab” yang sama, secara fundamental bertumpu pada “wahyu” dan “nabi” untuk menegaskan ekistensinya baik secara ontologis maupun legalistiknya. Oleh karena itu, “wahyu” menjadi salah satu dari tiga pilar utama epistemologi dalam Islam. Namun dapat dikatakan bahwa dalam hal yang menyangkut konsep dan detail tentang “wahyu” dan “nabi”, terdapat perbedaan yang sangat mendasar diantara ketiganya. Makalah singkat ini ingin mencoba mengkaji secara ilmiah kedua konsep “wahyu” dan “kenabian” dalam Islam, dengan merujuk sumber-sumber utama Islam dan analisis-analisis rasional yang dikembangkan para sarjana atau ilmuwan baik klassik maupun modern.

Definisi Wahyu dan Nabi
“Wahyu” dan “Nabi” adalah istilah yang berbahasa Arab. Oleh karena itu untuk mendapatkan definisi yang akurat dan definitif tentang kedua istilah ini mesti secara mutlak kembali kepada arti lughawÊ (dictionary meaning)nya yang diberikan dalam kamus-kamus bahasa Arab, dan bukan yang lain.

A.  “Wahyu”
Tanpa harus masuk kedalam detail arti kosa-kata ini secara kebahasaan, dapat disimpulkan secara umum apa yang ditulis oleh para penyusun kamus bahasa Arab bahwa arti “waÍy” ini berkisar sekitar: “al-ishÉrah al-sarÊÑah” (isyarat yang cepat), “alkitÉbah” (tulisan), “al-maktËb” (tertulis), “al-risÉlah” (pesan), “al-ilhÉm” (ilham), “aliÑlÉm al-khafÊ” (pemberitahuan yang bersifat tertutup dan tidak diketahui pihak lain) “alkalÉm al-khafÊ al-sarÊÑ” (pembicaraan yang bersifat tertutup dan tidak diketahui pihak lain dan cepat).

Baca selengkapnya DISINI

No comments:

Post a Comment