Tuesday, 27 February 2018

Islam di Nusantara: Historiografi dan Metodologi

Islam di Nusantara: Historiografi dan Metodologi
Dr Syamsuddin Arif

 
“The past is everywhere a battleground of rival attachments; competing groups struggle to validate
present goals by appealing to continuity with, or inheritance from, ancestral or other precursors.”
- David Lowenthal

Dalam literatur kesarjanaan antarabangsa, bila, darimana, dan bagaimanakah masuknya Islam di kepulauan Indonesia-Melayu serta sejauh manakah pengaruhnya adalah persoalan-persoalan yang menyulut kontroversi di kalangan Orientalis maupun ilmuwan-ilmuwan Muslim. Makalah ini akan memetakan ranah historiografi Islam di Nusantara sekaligus meninjau ulang pelbagai pandangan dan hujah-hujah yang telah dilontarkan berkaitan masa dan tempat asal kedatangan, pola-pola konversi dan sebabsebabnya, serta kadar pengaruh ajaran Islam terhadap penduduk Nusantara, terutama dari sisi metodologi dan epistemologinya.

1. Penanggalan: Sejak Bila?
Kita mulai dengan pertanyaan: Bilakah Islam sampai ke Nusantara? Secara garis besar, jawaban para ahli untuk soalan ini terbagi dua. Pendapat pertama mengatakan bahwa Islam tiba di Nusantara pada abad ke-13 Masehi, yakni setelah runtuhnya Dinasti Abbasiyah akibat serbuan tentara Mongol pada tahun 1258 M: “Toen de Mongolenvorst Hoelagoe in 1258 na Chr. Bagdad verwoestte, …was de Islam langzaam aan begonnen, in de eilanden van den Oost-Indischen Archipel door te dringen,” demikian menurut Christiaan Snouck Hurgronje (w.1936), pakar ketimuran (Orientalis) sekaligus penasehat kolonial Belanda. Pendapat klasik ini didasarkan pada batu nisan kubur Sultan Malik as-Shalih tahun 696 Hijriah atau1297 Masehi. Dirujuk pula catatan perjalanan Marco Polo yang sempat singgah di Sumatra pada tahun dan memberitakan ramainya rakyat kerajaan Perlak telah memeluk Islam.

Pendapat kedua -yang boleh kita namakan pandangan “revisionis”- menyatakan Islam masuk ke Nusantara sejak abad ke-7 yakni sejak zaman Khulafa’ Rasyidin pada kurun pertama Hijriah. Pendapat yang diyakini oleh mayoritas sarjana Muslim ini didukung oleh data-data sejarah yang cukup banyak.4 Pertama, dari berita Cina zaman Dinasti T’ang yang menyebut orang-orang Ta-Shih (yakni Arab) yang mengurungkan niatnya menyerang kerajaan Ho Ling yang diperintah Ratu Sima (674 Masehi), maka beberapa ahli menyimpulkan bahwa orang-orang Islam dari tanah Arab sudah berada di Nusantara –diperkirakan Sumatra- pada abad pertama Hijriah (abad ke-7 Masehi).

Salah satu bukti kukuh untuk pendapat ini diungkapkan oleh Ibrahim Buchari, merujuk angka tahun yang terdapat pada batu nisan seorang ulama bernama Syaikh Mukaiddin di Baros, Tapanuli, Sumatera Utara, dimana tertulis tahun 48 Hijriah yakni 670 Masehi. Sumber data lainnya kita peroleh dari Syaikh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad ibn Talib ad-Dimasyqi (w. 1327 M) alias Syaykh ar-Rabwah, penulis kitab Nukhbat ad-Dahr fi ‘Aja’ib al-Barr wa ’l-Bahr, yang menyatakan bahwa Islam telah masuk ke Nusantara, atau tepatnya Campa (Kamboja dan Vietnam sekarang) pada tahun 30 Hijriyah atau 651 Masehi.

Baca selengkapnya DISINI

No comments:

Post a Comment