Monday, 6 February 2017

Bahaya Relativisme Terhadap Keimanan

Bahaya Relativisme Terhadap Keimanan
Henri Shalahuddin, MA*

Mukaddimah
Makna Relativisme seperti yang tertera dalam ensiklopedi Britannica adalah doktrin bahwa ilmu pengetahuan, kebenaran dan moralitas wujud dalam kaitannya dengan budaya, masyarakat maupun konteks sejarah, dan semua hal tersebut tidak bersifat mutlak. (the doctrine that knowledge, truth, and morality exist in relation to culture, society, or historical context, and are not absolute). Lebih lanjut ensiklopedi ini menjelaskan bahwa dalam paham relativisme apa yang dikatakan benar atau salah; baik atau buruk tidak bersifat mutlak, tapi senantiasa berubah-ubah dan bersifat relatif tergantung pada individu, lingkungan maupun kondisi sosial. Pandangan ini telah lama ada sejak Protagoras, tokoh Sophis Yunani terkemuka abad 5 SM, dan di jaman modern ini digunakan sebagai pendekatan ilmiah dalam kajian sosiologi dan antropologi. (what is right or wrong and good or bad is not absolute but variable and relative, depending on the person, circumstances, or social situation. The view is as ancient as Protagoras, a leading Greek Sophist of the 5th century BC, and as modern as the scientific approaches of sociology and anthropology).

Dalam makalah yang sederhana ini, penulis akan menguraikan paham relativisme yang merupakan akar berbagai paham aliran-aliran modern, seperti sekularisme, liberalisme, pluralisme agama dan feminisme, secara gamblang menggerogoti prinsip-prinsip dasar ajaran Islam. Para penganut paham sekularisme, liberalisme, pluralisme agama dan feminisme dengan sendirinya akan menggunakan -atau setidaknya- membenarkan pendekatan relativisme kebenaran dalam memahami al-Qur'an dan Hadits.

Paham relativisme kebenaran berarti bahwa setiap orang dengan perbedaan tingkat intelektual dan kapabilitasnya, berhak memberikan pemaknaan terhadap ayat-ayat al-Qur'an maupun Hadits dan masing-masing tidak berhak mengklaim dirinya lebih benar dari lainnya. Sebab menurut mereka, kebenaran mutlak hanyalah milik Allah SWT, sedangkan al-Qur'an adalah Firman-Nya yang kebenarannya dijamin secara mutlak. Namun kebenaran mutlak tersebut hanyalah diketahui oleh Allah; dan manusia tidak akan pernah dapat mencapainya. Sebab manusia adalah makhluk yang nisbi dan relatif, maka kebenaran yang dicapainya juga bersifat relatif, samar dan senantiasa berbeda antara satu individu dan individu lainnya. Bahkan terkadang kebenaran tersebut kerap berubah seiring dengan kondisi, situasi dan kecenderungan manusia yang berkaitan. Para penganut paham ini biasanya menguatkan pandangannya dengan dalih bahwa manusia tidak pernah tahu maksud Tuhan yang sebenarnya. Oleh karena itu manusia tidak boleh mengklaim dirinya paling benar atau menyalahkan pihak yang berbeda dengannya.

Paham relativisme seperti yang dijelaskan dalam ensiklopedi Britannica, yang seharusnya hanya digunakan dalam kajian-kajian sosiologi dan antropologi, kini sering digunakan sebagai alat bedah dalam menafsirkan teks-teks wahyu dalam Islam. Adakah dampak yang serius bila kewahyuan al-Qur'an yang bersifat final dan tetap, ditafsirkan dengan pendekatan relativisme yang senantiasa berubah dan berbeda antara masing-masing penafsir, tergantung pada lingkungan maupun kondisi sosial yang melatarbelakanginya? Adakah paham relativisme mempunyai pengaruh negatif terhadap keimanan? Makalah ini berusaha menyajikan persoalan ini secara sistematis dan argumentatif dengan segala keterbatasan penulis.

Baca selengkapnya dalam makalah dibawah ini:

No comments:

Post a Comment