Saturday, 15 October 2016

Akal dan posisinya dalam Islam



Akal dan posisinya dalam Islam:

Kritik terhadap Rasionalisme Mu'tazilah versi Prof. Dr. Harun Nasution
(Henri Shalahuddin, MA)



Kedudukan akal dalam Islam menempati posisi yang sangat terhormat, melebihi agama-agama lain. Sebagai risalah Ilahiyyah terakhir, Islam mempersyaratkan kewajiban menjalankan agama bagi orang yang berakal. Artinya, orang yang hilang akalnya tidak diwajibkan mengerjakan perintah atau menjauhi larangan-Nya (takalif).




Dalam  al-Qur'an,  kata-kata  yang  berakar  pada  'aql  bertaburan  di  berbagai  surat. Kata-kata: afala  ta'qilun  (Maka  tidakkah  kamu  menggunakan  akalmu?;  Tidakkah  kamu  berfikir?)  terulang dalam  al-Al-Qur'an  tidak  kurang  dari  13  kali.  Kata  la'allakum  ta'qilu(agar  kamu mengerti/memahami)  terulang  sekitar  8 kali;  li qaumin  ya'qilun  (untuk kaum yang menggunakan akalnya/memikirkan) sekitar 8 kali; belum lagi kata-kata na'qilu, ya'qiluna biha, ya'qiluha, takunu ta'qilun, dsb.



Penghargaan terhadap akal yang sedemikian agung dalam Islam, bukan berarti akal dibiarkan bebas  berkelana  liar  tanpa  batas  dan  arahan,  terutama  saat  berhadapan  dengan ketentuan wahyu. Dalam  aliran  teologi  Islam,  dikenal  madzhab Mu'tazilah  yang  kerap  kehilangan  kendali  dalam pengagungannya terhadap kedudukan akal. Bahkan seringkali wahyu pun harus "tunduk" mengikuti kehendak akal manusia, seperti terlihat jelas dalam konsep baik dan buruk menurut Mu'tazilah yang didasarkan pada akal  (al-Íusnu wal qubÍu  'aqliyÉni), ketidakberdayaan Tuhan melakukan hal-hal yang "buruk", hingga urusan surga dan neraka yang seharusnya menjadi hak mutlak Tuhan pun di atur oleh akal, seperti yang tersusun dalam konsep al-ihbat wa l-takfir.



Penghargaan  berlebihan  terhadap  akal  juga  sangat  mendominasi  prinsip-prinsip  keimanan Mu'tazilah  yang  lima  (al-uÎËl  al-khamsah),  seperti  prinsip  tauhid,  adil,  janji  dan  ancaman, kedudukan di antara dua kedudukan dan amar ma'ruf nahi munkar.



Sementara  itu,  (alm)  Prof. Harun Nasution  justru menjunjung  tinggi  paham Mu'tazilah.  Ini terlihat  jelas  saat  beliau menulis  desertasi  S3-nya  yang  berusaha menghidupkan  kembali  tradisi rasional Mu'tazilah melalui pembaharu Mesir, Muhammad Abduh dengan tema Posisi Akal dalam Pemikiran Teologi Muhammad Abduh. Dalam membandingkan antara Mu'tazilah dan Asy'ariyah, Harun telah berasumsi terlebih dahulu bahwa pemikiran Mu'tazilah lebih maju dan berharap supaya pemikiran Asy'ariyah diganti karena menggunakan metodologi tradisonal. Dalam tulisannya, Harun menyatakan:

 

"Sejak  awal  di  McGill,  aku  sudah  melihat  pemikiran  Mu'tazilah  maju  sekali.  Kaum Mu'tazilah  lah  yang  bisa  mengadakan  satu  gerakan  pemikiran  dan  peradaban  Islam. Selanjutnya malah mendirikan unversitas  di Eropa.  Ini  yang membuatku  berfikir: kalau Islam zaman dulu begitu, mengapa Islam sekarang tidak. Sebaiknya Islam zaman sekarang lebih didorong lagi ke sana

Sejak  itu  harapanku  cuma  satu:  pemikiran Asy'ariyah mesti  diganti  dengan  pemikiranpemikiran mu'tazilah, pemikiran para  filosof atau pemikiran rasional. Atau dalam  istilah sekalang, metodologi  rasional Mu'tazilah. Sebaliknya, metodologi  tradisional Asy'ariyah harus diganti"



Dalam makalahnya, penulis telah mengkaji sejauh mana keabsahan pendapat Prof. Dr. Harun Nasution  dalam  karyanya:  Islam ditinjau dari berbagai aspeknya, yang  lebih menjunjung paham Mu'tazilah dari pada Asy'ariyah mengenai posisi akal? Bagaimanakah sebenarnya paham Mu'tazilah dan Asy'ariyah memposisikan akal dan wahyu? Dan Apakah definisi akal sebenarnya? Jawabannya bisa Anda dapatkan dalam makalah yang bisa didownload pada link di bawah ini

No comments:

Post a Comment