Thursday, 16 April 2015

Melawan Takdir



Melawan Takdir
Setiap manusia terlahir dengan takdirnya masing-masing. Ya, Sang Pencipta telah menggariskan takdir-Nya untuk mereka jalani. Pun begitu denganku, aku memiliki takdirku sendiri untuk ku jalani. Tapi tahukah kalian? Bahwa saat ini aku seperti makhluk yang sedang melawan takdir yang telah digariskan oleh Sang Maha Pencipta sejak zaman azaliku. Ya, itulah yang sedang aku rasakan kini. Berusaha menghindar dan melawan takdirku sendiri, sepertinya.


Setiap orang berhak memiliki mimpi, dan tentunya bebas bermimpi tentang apa saja. Pun begitu denganku. Aku adalah orang yang memiliki banyak mimpi sejak dahulu, bahkan mimpi-mimpi itu masih aku simpan dalam hati hingga kini. Berharap mereka akan menjadi kenyataan satu persatu. Aku selalu berusaha untuk mewujudkannya, meski selalu saja buntu pada akhirnya. Menyedihkan bukan? Tapi itulah kenyataannya.

Sejak masa sekolah aku senang tampil di depan orang banyak, menari, membaca puisi, berperan dalam sebuah drama, berbicara, dan mengutarakan pendapat. Memasuki bangku menengah atas, debat dan presentasi menjadi hal biasa bagiku. Hingga akhirnya satu kesempatan datang untukku menjadi seorang pembawa acara, meski sebenarnya cukup menakutkan bagiku pada saat itu, karena di sekolah menengah pertama aku pernah gagal dan hal itu cukup memukulku, sebab salah satu guru mengkritikku habis-habisan di hadapan teman-teman satu hari setelah acara tersebut. Tapi itu masa lalu, aku menerima kesempatan itu dan…. Voilllaa!!! Aku sukses, menuai banyak pujian dari banyak orang, tapi bukan itu yang membuat hatiku senang. Aku senang karena saat membawakan acara aku merasakan semangat yang begitu hidup, bahkan setelahnya. Tidak hanya itu, aku seperti di nobatkan secara tidak langsung menjadi ‘master’nya Master of Ceremony disana. Dimana setiap acara selalu aku yang membuat konsep, mengatur dan membawakan acaranya.

Tahukah kalian? Saat itu aku merasa lebih hidup dari biasanya. Entah bagaimana aku mengungkapkannya, sesuatu yang menyenangkan dan membahagiakan hidup di dalam diriku. Aku lebih bersemangat, hidupku lebih berwarna, dan lebih-lebih lagi… saat itu aku rasa, aku merasa jatuh cinta pada dunia ini, dunianya para pembawa acara. Saat itu pula aku bermimpi menjadi seorang pembawa acara profesional dan menjadi seorang penyiar. Sebuah kunjungan ke studio radio dan ikut serta saat on air di dalamnya membuat aku jatuh cinta pada dunia penyiaran. Yup, aku merasa seperti tahu kemana tujuan hidupku selanjutnya, saat itu… ya, hanya saat itu…

Setelahnya aku memaksakan diri untuk masuk perguruan tinggi dengan Jurusan Komunikasi, meski orangtuaku tak begitu mengizinkan dengan berbagai macam alasan. Namun, dengan berbagai macam alasan pula dan keinginan kuat untuk menjadi seorang pembawa acara profesional atau sebagai seorang penyiar yang masih tersimpan dibenakku, aku berhasil meyakinkan orangtuaku. Saat-saat kuliah… ternyata tak begitu memenuhi harapanku pada akhirnya. Dosen mata kuliah Penyiaran Radio di kampusku, begitu… ah, entahlah… aku enggan membicarakannya. Yang pasti, harapanku tak terpenuhi.

Aku berusaha memenuhi harapanku untuk mencapai dunia penyiaran. Ku dengar kabar, salah seorang senior di jurusanku selalu merekomendasikan adik-adik tingkatnya untuk bisa magang di radio. Aha! Harapanku… meski ternyata harapan itu harus kembali ku simpan dalam-dalam. Senior itu begitu pintar memandang dengan mata jalangnya. Ia merekomendasikan adik tingkat yang patut Ia rekomedasikan menurut penciuman hidung belangnya saja. terakhir kali aku bercerita tentang hal ini, seseorang berkata “Elo kurang cantik, makanya gak diajak”, jauh sebelum orang itu berkata demikian, aku sudah sangat menyadari bahwa aku kurang cantik. Oh! Bukan, bukan kurang cantik, tapi tidak cantik lebih tepatnya. Aku bukan perempuan yang gila pujian dan harus selalu terlihat cantik oleh laki-laki. Tidak, aku tidak begitu. Aku punya cermin dan aku cukup sadar untuk bercermin, bahwa aku adalah salah seorang perempuan yang terlahir dengan ketidakelokan tubuhnya dan ketidakcantikan wajahnya. Aku rasa tidak ada yang salah dengan itu.

Sadar bahwa mata seniorku terlalu jalang dalam menilai, dan tentunya aku sudah jauh dikeluarkan sebelum sempat dimasukkan dalam kualifikasi adik tingkat yang patut direkomendasikan untuk magang di radio. Aku menjauh dan lebih memilih mencari jalan merekomendasikan diriku sendiri untuk magang. Yup, magang di sebuah radio etnik di Cianjur, tempatku menimba ilmu sebelumnya. Yatta!! Aku diterima dan magang disana selama sebulan. Rasanya… luar biasa, aku memiliki harapan yang semakin hidup dan lebih hidup lagi.

Bertahun kemudian harapan untuk menjadi seorang pembawa acara profesional atau seorang penyiar tidak luntur sama sekali, masih tetap hidup bersama harapan pada mimpi-mimpi lain yang ikut hidup setelahnya. Mimpi-mimpi tentang menjadi seorang penulis, penyair, pemain teater, editor, copy writer, bekerja di EO atau advertisement agency. Entahlah, mimpi-mimpi itu kemudian ikut hidup dalam diriku, meski disisi lain aku selalu merasa minder. Akankah seorang yang terlahir dengan kondisi fisik tidak sempurna dan tidak cantik sepertiku memiliki tempat disana? Hahaha… sebuah fikiran konyol yang tidak perlu difikirkan, meski pada akhirnya selalu terfikirkan.

Setelah lulus kuliah aku terjebak dalam sebuah situasi yang sama sekali tidak aku sukai. Aku terpaksa bekerja di sebuah lembaga pendidikan formal dimana aku dulu belajar. Semua berjalan biasa, sangat biasa, aku tidak merasakan jiwa yang hidup seperti aku mengurus acara, menjadi seorang pembawa acara atau saat duduk di belakang mixer sound di radio. Semua biasa. Harus aku akui, orangtuaku, sahabat, dan orang-orang disekelilingku seakan mengamini diriku untuk menjadi guru. Mereka tidak tahu seberapa besar tidak sukanya aku pada dunia tersebut. mereka tidak pernah tahu…

Aku kembali mendapatkan semangat hidupku saat aku mendapat izin untuk magang sebagai penyiar radio di wilayah kota Bogor. Aku kembali merasakan jiwa yang hidup. sayangnya, itu hanya berlangsung dalam hitungan bulan. Alasan perizinan membuat radio tidak dapat beroperasi. Kalian tahu? Sedih rasanya, baru saja aku merasakan semangat dan merasakan begitu hidup ini menyenangkan tapi semua harus kembali pada keseharian yang menjenuhkan. Aku ingin berbuat sesuatu, tapi entah apa? bagaimana cara memulainya? Aku sangat tidak ingin meninggalkan radio, aku merasa jiwaku ada disana.

Aku kembali menjalani hari-hari menjenuhkanku seperti biasa, sangat biasa. Aku mencoba melamar menjadi seorang editor di perusahaan penerbitan buku. Keajaiban pun datang, aku diterima dan tinggal menandatangani kontrak keesokan harinya, tapi orangtuaku tidak mengizinkan dengan alasan jarak dan usaha keluarga yang harus diurus. Aku seperti dihantam beban berates-ratus kilo beratnya diatas kepalaku. Kesempatan menjadi seorang copy writer juga kemudian lewat begitu saja dengan alasan sama. Aku keluar dari pekerjaan sebelumnya, terlalu jenuh dan aku tidak ingin lagi melakukan hal yang tidak aku sukai. Aku harus mengambil keputusan. Namun, lagi-lagi kalimat wejangan orangtuaku membentur kepalaku. Membuat aku selalu mengurungkan langkahku untuk maju.

Entah kenapa disekelilingku kesempatan yang selalu terbuka lebar adalah kembali pada dunia pendidikan formal, menjadi guru. Entah kenapa orangtuaku selalu bersemangat jika itu tentang mengajar. Tapi tidak denganku, aku tidak pernah bersemangat melakukannya. Rasanya, apa yang diaminkan oleh orang disekelilingku bahwa aku cocok jadi guru, diaminkan juga oleh para malaikat. Aku sepertinya memang ditakdirkan menjadi guru, berada dilingkungan pendidikan formal yang tidak aku sukai. Mungkinkah ini sebagai hukuman bagiku dari Sang Pencipta karena tidak menyukai dunia pendidikan? Tapi aku tidak membenci gurunya atau orangnya, aku hanya membenci sistem yang mereka gunakan, caranya, dan tidak semuanya aku benci. Itu saja.

Kini, aku menyerah pada keadaan. Ya, keadaan dimana seakan aku tidak pernah direstui untuk menjadi apa yang aku inginkan. Aku harus mengubur dalam-dalam mimpi yang selama ini aku simpan. Kembali menjadi jiwa tak bernyawa, menjalani hari-hari yang biasa, sangat biasa. Kembali menahan diri saat mata ini melihat sistem dan cara mendidik yang entahlah… mengakrabi kembali hal-hal menjenuhkan. Aku sudah terlalu lama melawan takdirku. Takdir menjadi guru. Takdir berada dilingkungan pendidikan formal. Terlalu banyak orang yang mengaminiku untuk menjadi guru, sedangkan aku berjuang sendiri melawan dan menyangkal aminan tersebut. Bodoh! Tentu saja aku kalah.

Bagaimana pun, setidaknya aku pernah berjuang dan berusaha menjadi seperti yang aku inginkan. Seperti mimpi yang selama ini hidup dan menyemangatiku. Meski akhirnya aku menyerah. Setidaknya aku pernah merasakan menjadi seperti yang aku inginkan. Terima kasih untuk setiap orang yang pernah memberi kesempatan pada manusia kerdil ini untuk sekedar mengecap rasanya menjadi seperti yang ia impikan. Pasundan Radio (Kang Ajat, Teh Ayi, Kang Ukay, Kang Ajum, Kang Fey, Kang Oden, Kang Usep, Kang Herdi, Pak Iwan, Teh Emi, Kang Azwar, Mamih) dan Mars FM (Om Burhan, Om Arif, Bang Rizal, Laela). Terima kasih untuk kalian semua. Entah bagaimana cara mengucapkan terima kasih dan membalas kebaikan kalian semua. Kalian pernah membuat jiwa ini merasa sangat hidup. Meski kemudian akhirnya ia menyerah dan memutuskan untuk mematikan mimpinya sendiri. Terima kasih. Aku tidak akan pernah menyesali jika dikemudian hari diri ini hidup tanpa mimpi...

Rumah Sepi, Miel.

No comments:

Post a Comment