Monday, 17 November 2014

Fiksi Akhir Sebuah Cerita



Akhir Sebuah Cerita

Entah apa yang menyelimuti hati, ketika aku berkomunikasi kembali dengan seseorang dari masa lalu. Ada perasaan takut, takut yang teramat sangat. Aku merasa takut kehilangan seseorang di masa kini yang selalu menghiasi hari-hari setelah ‘orang dari masa lalu’ itu pergi. Sebenarnya bukan hanya itu yang membuat perasaan takut kehilangan. Akhir-akhir ini aku sering menatap lekat-lekat wajah kedua orang tuaku saat kami berbincang. Aku menyadari, wajah keduanya semakin menua, namun beban yang beliau tanggung belum juga meringan. Aku ingin ikut membantu keduanya hingga beban itu berkurang sedikit demi sedikit. Tapi, masalah hati menjadi dilema tersendiri disela-sela keinginan meringankan beban.


“Akhir bulan ini, saya ke rumahmu”, kalimat itu terlontar dari mulutmu di ujung ponsel kala itu, aku tersenyum tapi juga limbung. Siapkah aku? Tidak… tidak hanya aku, tapi juga orang tuaku. Ya, siapkah orang tuaku jika dalam waktu dekat aku menikah dan dibawa pergi suami? Pikiranku menerawang adegan beberapa hari yang lalu tentang harapan-harapan orang tuaku untuk ikut membantu menyelesaikan masalah yang saat ini dihadapi hingga 3 tahun kedepan. Aku tahu, kamu memiliki i’tikad yang baik bahwa akan membantu kami setelah menikah nanti, tapi aku juga tahu bagaimana sifat orang tuaku yang pastinya nanti tidak akan mau merepotkan anaknya jika sudah berkeluarga.

Malam itu, seperti biasa kita berbincang via telepon selular. Walau pun ada hal mengganjal yang tidak biasa aku rasa. Entah mengapa, mengingat tentangmu pasti akan diiringi ingatan-ingatan tentang orang tuaku. Malam itu, aku meminta maaf padamu dengan nada berat, mengambang dan tanpa alasan. Ya, aku meminta maaf untuk setiap salahku padamu tanpa alasan yang mendasar. Dihatiku saat itu, hanya merasa takut kehilanganmu yang kemudian diikuti takut melukai perasaan kedua orang tuaku. Aku menjelaskan tentang adegan komunikasi bersama ‘orang dari masa lalu’ itu, meski terkesan ‘dingin’ daripada bersahaja apalagi mesra. Tanpa rasa. Nada suaraku berat, tidak seringan biasanya saat berbicara denganmu. Entah kamu menyadarinya atau tidak, yang pasti aku menahan sesuatu. Menahan tangis yang rasanya ingin pecah tanpa alasan.


Kamu tahu? Malam itu aku bingung… hingga kata-kata ‘menyeletuk’ dari mulutku terlontar dengan bebas. Aku sadar, mungkin kamu akan merasa sakit atau bahkan ill feel ketika mendengar kata-kata ajaib itu. Aku fikir, begitulah caranya agar membuat jarak antara kita. Agar aku tidak memupuskan keinginan orang tuaku dan membiarkanmu mewujudkan mimpi menikah dalam waktu dekat. Tapi, dalam waktu bersamaan, ternyata aku membuat sayatan-sayatan luka dihatiku sendiri. Membiarkanmu dengan sengaja pergi meski dalam hati kecilku, aku ketakutan untuk kehilanganmu. Diakhir perbincangan, kita berdebat hanya untuk menutup telepon. Aku tak mau mengalah untuk menutup telepon meski kamu memaksa. Ya, aku tak mau mengalah! Betapa egoisnya aku, bukan? Ya, sangat egois bahkan untuk hal sepele seperti menutup telepon. Seandainya kamu tahu, bahwa aku tak ingin menutup telepon karena aku takut itu adalah kali terakhir aku mendengar suaramu. Kamu dengar? Aku tertawa saat kamu merasa terpaksa menutup telepon, tapi saat nada telepon ditutup berbunyi, cairan hangat mengalir dengan sempurna dikedua sudut mataku. Dan aku hanya mampu tersenyum pahit.

Perkiraanku benar, hari-hari setelah itu menjadi teramat sepi. Pesan singkatku tak lagi mendapat balasan darimu, bahkan panggilan teleponku pun terabaikan. Ah… seharusnya aku sadar. Aku menyerah untuk memulai berkomunikasi lagi denganmu, karena kamu sepertinya mulai enggan berbincang lagi denganku. Aku mengakhiri panggilan dari ponselku yang tak kunjung mendapat jawaban dari ujung sana. “Ini adalah kali terakhir” ucapku dalam hati. Aku tatap layar ponsel ‘jadul’ ku, tertera nama yang sempat menentramkan hati, namun kini mulai pergi. Sesaat kemudian bibirku mengukir senyum penuh kemenangan, namun mataku nanar, basah dihujani air mata yang menderai seketika. Aku harusnya senang, bukankah ini yang kuinginkan? Ya, yang kuinginkan kita tidak lagi dekat, tapi kenapa begitu sakit yang aku rasa? Begitu pilu… sebab ketakutanku kehilanganmu menjadi kenyataan.

Malam-malam selanjutnya berlalu tanpamu. Malam-malam itu aku isi kembali dengan curahanku pada Sang Pemilik Segala. Aku mengadu, mengeluh, bermunajat. “Rabbi… hambaMu yang kerdil ini rindu ketenangan hati, tolong bantulah aku menata kembali hati yang mulai mati”. Aku tergolek lemah diatas sajadah biru tua kesayanganku. Masih berbalut mukena putih bersih. Aku meringkuk, membiarkan air mataku mengalir pasrah lalu terjun menuju sajadah. Aku menutup mataku, berusaha membayangkan kedua orang tuaku sebagai penawar rasa sakit dihatiku.

“Rabbi, izinkan aku mengeluarkan segala keluh malam ini, agar esok hari, aku mampu berdiri kembali. Biarkan aku menangis sepuas hati, agar esok hari aku bisa mengukir senyum kembali. Rabbi, pertemukan dia dengan kebahagiaannya dan biarkan aku membahagiakan orang tuaku”.

# # # # #

Gadis itu menutup laptop hitam miliknya setelah selesai menuliskan kisahnya. Gadis itu bernama Kamilla. Ia tak lagi menuliskan setiap kisahnya dalam diary seperti beberapa tahun lalu, saat ini Kamilla lebih senang menuliskan kisahnya dalam laptop kesayangannya. Untuk dikenang, menurutnya. singkat. Hmm… dia, laki-laki yang diceritakan dalam kisahnya itu menghilang begitu saja, menjauh tanpa kata-kata perpisahan. Kenapa mesti begitu? Fikirnya, atau… mungkin begitukah cara laki-laki meninggalkan perempuan dalam kisah mereka? Begitukah cara laki-laki mengakhiri kedekatannya dengan seorang perempuan? Epic! Tapi juga sakit! Meski tak bisa bersama-sama, tak bisakah berlaku seperti biasa? Seperti seorang kawan lama. Kamilla menutup matanya, mencoba mengurai kembali masa singkat bersama laki-laki yang sempat meneduhkan hatinya itu. “Seharusnya dari awal aku sudah menyadari akhir dari cerita ini.” Bibirnya tersenyum… tapi air mata bening menyelinap keluar dari kedua sudut matanya yang masih tertutup rapat.

No comments:

Post a Comment