Thursday, 7 February 2013

Psikologi Komunikasi



PERSEPSI INTRAPERSONAL DAN PRASANGKA

BAB I

PENDAHULUAN


Menurut Jalaludin Rakhmat, dalam Ilmu Komunikasi persepsi individu diidentifikasikan kedalam dua bentuk persepsi, yakni : “Persepsi intrapersonal dan persepsi interpersonal. Secara umum persepsi intrapersonal dapat dikatakan sebagai persepsi yang terjadi didalam benak individu dan banyak dipengaruhi faktor-faktor internal dan dalam proses persepsi intrapersonal lebih banyak melibatkan kegiatan komunikasi intrapersonal yakni meliputi sensasi, persepsi, memori dan berfikir. Sedangkan persepsi interpersonal dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial seperti pengaruh interpersonal, nilai-nilai kultural, dan harapan-harapan. Selain itu persepsi interpersonal bukan kepada objek akan tetapi kepada manusia”. (Rakhmat, 1999 : 80).

Selanjutnya dalam persepsi intrapersonal dan persepsi interpersonal Joseph A. DeVito dan Brian Fellows, sebagaimana dikutip oleh Deddy Mulyana mengemukakan bahwa : “Persepsi intrapersonal dan persepsi interpersonal tidak dapat dipisahkan karena keduanya saling mempengaruhi satu sama lain. Persepsi juga dikatakan sebagai proses pemberian makna terhadap sensasi atau dapat dikatakan sebagai proses penangkapan stimuli, dapat dikatakan juga bahwa stimuli merupakan faktor utama dalam pembentukan suatu persepsi seseorang.” (Mulyana, 2000 : 168).
Dengan adanya penjelasan diatas maka makalah ini akan membahas secara spesifik pada komunikasi intrapersonal sebagai cara yang mendominasi adanya persepsi intrapersonal. Makalah ini juga akan membahas prasangka sebagai salah satu hasil atau dampak yang timbul dari adanya persepsi intrapersonal melalui komunikasi intrapersonal.


BAB II

PEMBAHASAN


Dalam komunikasi intrapersonal dijelaskan bagaimana orang menerima informasi, mengolahnya, menyamakannya dan menghasilkan sebuah bentuk kesimpulan yang baru. Proses pengolahan informasi yang dibahas dalam tulisan ini khususnya, yakni komunikasi intrapersonal meliputi sensasi, persepsi, memori, dan berpikir.

1.      Sensasi
Sensasi berasal dari kata “sense” yang artinya alat pengindraan, yang menghubungkan organisme dengan lingkungannya. Menurut Dennis Coon, “Sensasi adalah pengalaman elementer yang segera, yang tidak memerlukan penguraian verbal. Simbolis, atau konseptual, dan terutama sekali berhubungan dengan kegiatan alat indera.”
Definisi sensasi, fungsi alat indera dalam menerima informasi dari lingkungan sangat penting. Kita mengenal lima alat indera atau pancaindera. Kita mengelompokannya pada tiga macam indera penerima, sesuai dengan sumber informasi. Sumber informasi boleh berasal dari dunia luar (eksternal) atau dari dalam diri (internal). Informasi dari luar diindera oleh eksteroseptor (misalnya, telinga atau mata). Informasi dari dalam diindera oleh ineroseptor (misalnya, system peredaran darah). Gerakan tubuh kita sendiri diindera oleg propriseptor (misalnya, organ vestibular).

2.      Persepsi
Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi (sensory stimuli). Sensasi adalah bagian dari persepsi. Persepsi, seperti juga sensasi ditentukan oleh faktor personal dan faktor situasional. Faktor lainnya yang memengaruhi persepsi, yakni perhatian.
a)      Perhatian (Attention)
Perhatian adalah proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi menonjol dalam kesdaran pada saat stimuli lainnya melemah (Kenneth E. Andersen)

1)      Faktor Eksternal Penarik Perhatian
Hal ini ditentukan oleh faktor-faktor situasional personal. Faktor situasional terkadang disebut sebagai determinan perharian yang bersifat eksternal atau penarik perhatian (attention getter) dan sifat-sifat yang menonjol, seperti :
Ø  Gerakan secara visual tertarik pada objek-objek yang bergerak.
Ø  Intensitas Stimuli, kita akan memerhatikan stimuli yang menonjol dari stimuli yang lain
Ø  Kebauran (Novelty), hal-hal yang baru dan luar biasa, yang beda, akan menarik perhatian.
Ø  Perulangan, hal-hal yang disajikan berkali-kali bila disertai sedikit variasi akan menarik perhatian.

2)      Faktor Internal Penaruh Perhatian
Apa yang menjadi perhatian kita lolos dari perhatian orang lain, atau sebaliknya. Ada kecenderungan kita melihat apa yang ingin kita lihat, dan mendengar apa yang ingin kita dengar. Perbedaan ini timbul dari faktor-faktor yang ada dalam diri kita. Contoh-contoh faktor yang memengaruhi perhatian kita adalah:
Ø  Faktor-faktor Biologis
Ø  Faktor-faktor Sosiopsikologis.
Ø  Motif  Sosiogenis, sikap, kebiasaan, dan kemauan, memengaruhi apa yang kita perhatikan.

3)      Faktor-faktor Fungsional yang Menentukan Persepsi
Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal lain yang termasuk apa yang ingin kita sebut sebagai faktor-faktor personal. Yang menentukan persepsi bukan jenis atau bentuk stimuli, tetapi karakteristik orang yang memeberikan respons pada stimuli itu.

4)      Faktor-faktor Struktural yang Menentukan Persepsi
Faktor-faktor struktural berasal semata-mata dari sifat stimuli fisik dan ekfek-efek saraf yang ditimbulkannya pada system saraf individu. Para psikolog Gestalat, seperti Kohler, Wartheimer, dan Koffka, merumuskan prinsip-prinsip persepsi yang bersifat struktural. Prinsip-prinsip ini kemundian terkenal dengan nama teori Gestalt. Menurut teori Gestalt, mempersepsi sesuatu, kita mempersepsikannya sebagai suatu keseluruhan. Dengan kata lain, kita tidak melihat bagian-bagiannya. Jika kia ingin memahami suatu peristiwa, kita tidak dapat meneliti fakta-fakta yang terpisah; kita harus memandangnya dalam hubungan keseluruhan

3.      Memori
Dalam komunikasi Intrapersonal, memori memegang peranan penting dalam memengaruhi baik persepsi maupun berpikir. Memori adalah system yang sangat berstruktur, yang menyebabkan organisme sanggup merekam fakta tentang dunia dan menggunakan pengetahuannya untuk membimbing perilakunya (Schlessinger dan Groves).

a)      Memori melewati tiga proses:
Ø  Perekaman (encoding) adalah pencatatan informasi melalui reseptor inera dan sirkit saraf internal.
Ø  Penyimpanan (strorage) adalah menentukan berapa lama informasi itu berada berserta kita, dalam bentuk apa, dan di mana.
Ø  Pemanggilan (retrieval), dalam bahasa sehari-hari, mengingat lagi, adalah menggunakan informasi yang disimpan. Pemanggilan diketahui dengan empat cara :
1)      Pengingatan (Recall), Proses aktif untuk menghasilkan kembali fakta dan informasi secara verbatim (kata demi kata), tanpa petunjuk yang jelas.
2)      Pengenalan (Recognition), Agak sukar untuk mengingat kembali sejumlah fakta;lebih mudah mengenalnya.
3)      Belajar lagi (Relearning), Menguasai kembali pelajaran yang sudah kita peroleh termasuk pekerjaan memori.
4)      Redintergrasi (Redintergration), Merekontruksi seluruh masa lalu dari satu petunjuk memori kecil.

b)      Mekanisme Memori
Ada tiga teori yang menjelaskan memori :
1)      Teori Aus (Disuse Theory), memori hilang karena waktu. William James, juga Benton J. Underwood membuktikan dengan eksperimen, bahwa “the more memorizing one does, the poorer one’s ability to memorize” – makin sering mengingat, makin jelek kemampuan mengingat.
2)      Teori Interferensi (Interference Theory), Memori merupakan meja lilin atau kanvas. Pengalaman adalah lukisan pada menja lilin atau kanvas itu. Ada 5 hal yang menjadi hambatan terhapusnya rekaman : Interferensi, inhibisi retroaktif (hambatan kebelakang), inhibisi proaktif (hambatan kedepan), hambatan motivasional, dan amnesia.
3)      Teori Pengolahan Informasi ( Information Processing Theory), menyatakan bahwa informasi mula-mula disimpan pada sensory storage (gudang inderawi), kemudian masuk short-term memory (STM, memory jangka pendek; lalu dilupakan atau dikoding untuk dimasukan pada Long-Term Memory (LTM, memori jangka panjang).

4.      Berpikir
Dalam berpikir kita melibat semua proses yang kita sebut sensasi, persepsi, dan memori. Berpikir merupakan manipulasi atau organisasi unsur-unsur lingkungan dengan menggunakan lambang-lambang sehingga tidak perlu langsung melakukan kegiatan yang tampak. Berpikir menunjukan berbagai kegiatan yang melibatkan penggunaan konsep dan lambang, sebagai pengganti objek dan peristiwa. Berpikir kita lakukan untuk memahami realitas dalam rangka mengambil keputusan (decision making), memecahkan persoalan (problem solving). Dan menghasilkan yang baru (creativity).
Ada dua macam berpikir:
a)      Berpikir autistik, dengan melamun, berfantasi, menghayal, dan wishful thinking. Dengan berpikir autistic, orang melarikan diri dari kenyataan dan melihat hidup sebagai gambar-gambar fantastis.
b)      berpikir realistic, disebut juga nalar (reasoning), ialah berpikir dalam rangka menyesuaikan diri dengan dunia nyata. Floyd L. Ruch, menyebutkan tiga macam berpikir realistik:
Ø  Berpikir deduktif : mengambil kesimpulan dari dua pernyataan, dalam logika disebutnya silogisme.
Ø  Berpikir Induktif : Dimulai dari hal-hal yang khusu kemundian mengambil kesimpulan umum; kita melakukan generalisasi.
Ø  Berpikir evaluatif : berpikir kritis, menilai baik-buruknya, tepat atau tidaknya suatu gagasan, kita tidak menmbah atau mengurangi gagasan, namun menilainya menurut kriteria tertentu.

1)      Menetapkan Keputusan (Decision Making)
Salah satu fungsi berpikir adalah menetapkan keputusan. Keputusan yang kita ambil beraneka ragam. Tanda-tanda umumnya:
Ø  Keputusan merupakan hasil berpikir, hasil usaha intelektual.
Ø  keputusan selalu melibatkan pilihan dari berbagai alternative.
Ø  keputusan selalu melibatkan tindakan nyata, walaupun pelaksanaanya boleh ditangguhkan atau dilupakan.

Faktor-faktor personal amat menentukan apa yang diputuskan, antara lain :
Ø  Kognisi, kualitas dan kuantitas pengetahuan yang dimiliki
Ø  Motif, amat memengaruhi pengambilan keputusan.
Ø  Sikap, juga menjadi faktor penentu lainnya.

2)      Memecahkan persoalan (Problem Solving)
Proses memecahkan persoalan berlangsung melalui lima tahap :
Ø  Terjadi peristiwa ketika perilaku yang biasa dihambat Karena sebab-sebab tertentu.
Ø  Anda mencoba menggali memori anda untuk mengatahui cara apa saja yang efektif pada masa lalu.
Ø  pada tahap ini, anda mencoba seluruh kemungkinan pemecahan yang pernah anda ingat atau yang dapat anda pikirkan.
Ø  Anda mulai menggunakan lambing-lambang vergal atau grafis untuk mengatasi masalah.
Ø  Tiba-tiba terlintas dalam pikiran anda suatu pemecahan. Pemecahan masalah ini biasa disebut Aha-Erlebnis (Pengalaman Aha), atau lebih lazim disebut insight solution.

Faktor-faktor yang Memengaruhi Proses Pemecahan Masalah
Pemecahan masalah dipengaruhi faktor-faktrot situasional dan personal. Faktor-faktor situasional terjadi, misalnya, pada stimulus yang menimbulkan masalah. Pengaruh faktor-faktor biologis dan sosiopsikologis terhadap proses pemecahan masalah. Contohnya :
Ø  Motivasi, Motivasi yang rendah lebih mengalihkan perhatian. Motivasi yang tinggi membatasi fleksibilitas.
Ø  Kepercayaan dan sikap yang salah, Asumsi yang salah dapat menyesatkan kita.
Ø  Kebiasaan, Kecenderungan untuk memertahankan pola berpikir tertentu, atau misalnya melihat masalah dari satu sisi saja, atau kepercayaan yang berlebihan dan tanpa kritis pada pendapat otoritas, mengahambat pemecahan masalah yang efisien.
Ø  Emosi, Dalam menghadapi berbagai situasi, kita tanpa sadar sering terlibat secara emosional. Emosi mewarnai cara berpikir kita. Kita tidak pernah berpikir betul-betul secara objektif.

3)      Berpikir Kreatif (Creative Thinking).
Berpikir kreatif menurut James C. Coleman dan Coustance L. Hammen, adalah “thinking which produces new methods, new concepts, new understanding, new invations, new work of art.” Pemikiran yang menghasilkan metode baru, konsep baru, pemahaman baru, invasi baru, pekerjaan baru dari seni. Berpikir kreatif harus memenui tiga syarat:
Ø  Kreativitas melibatkan respons atau gagasan yang baru, atau yang secara statistic sangat jarang terjadi. Tetapi kebauran saja tidak cukup.
Ø  Kreativitas ialah dapat memecahkan persoalan secara realistis.
Ø  Kreativitas merupakan usaha untuk memertahankan insight yang orisinal, menilai dan mengembangkannya sebaik mungkin.

Ketika orang berpikir kreatif, cara berpikir yang digunakan adalah berpikir analogis. Guilford membedakan antara berpikir kreatif dan tak kreatif dengan konsep konvergen dan divergen. Kata Guilford, orang kreatif ditandai dengan cara berpikir divergen. Yakni, mencoba menghasilkan sejumlah kemungkinan jawaban. Berpikir konvergen erat kaitannya dengan kecerdasan, sedangkan divergen kreativitas. Berpikir divergen dapat diukur dengan fluency, flexibility, dan originality.

a.       Proses Berpikir Kreatif
Para psikolog menyebutkan lima tahap berpikir kreatif :
Ø  Orientasi : Masalah dirumuskan, dan aspek-aspek masalah diidentifikasi.
Ø  Preparasi : Pikiran berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang relevan dengan masalah.
Ø  Inkubasi : Pikiran beristirahat sebentar, ketika berbagai pemecahan berhadapan dengan jalan buntu. Pada tahap ini, proses pemecahan masalah berlangsung terus dalam jiwa bawah sadar kita.
Ø  Iluminasi : Masa Inkubasi berakhir ketika pemikir memperoleh semacam ilham, serangkaian insight yang memecahkan masalah. Ini menimbulkan Aha Erlebnis.
Ø  Verifikasi : Tahap terakhir untuk menguji dan secara kritis menilai pemecahan masalah yang diajukan pada tahan keempat.

b.      Faktor-faktor yang Memengaruhi Berpikir Kreatif
Berpikir kreatif tumbuh subur bila ditunjang oleh faktor personal dan situasional. Menurut Coleman dan Hammen, faktor yang secara umum menandai orang-orang kreatif adalah :
Ø  Kemampuan Kognitif : Termasuk di sini kecerdasan di atas rata-rata, kemampuan melahirkan gagasan-gagasan baru, gagasan-gagasan yang berlainan, dan fleksibilitas kognitif.
Ø  Sikap yang terbuka : orang kreatif mempersiapkan dirinya menerima stimuli internal maupun eksternal.
Ø  Sikap yang bebas, otonom, dan percaya pada diri sendiri : orang kreatif ingin menampilkan dirinya semampu dan semaunya, ia tidak terikat oleh konvensi-kovensi. Hal ini menyebabkan orang kreatif sering dianggap “nyentrik” atau gila.

PRASANGKA
Prasangka adalah sikap (biasanya negatif) kepada anggota kelompok tertentu yang semata-mata didasarkan pada keanggotaan mereka dalam kelompok (Baron & Byrne, 1991). Sementara itu, Daft (1999) memberikan definisi prasangka lebih spesifik yakni kecenderungan untuk menilai secara negatif orang yang memiliki perbedaan dari umumnya orang dalam hal seksualitas, ras, etnik, atau yang memiliki kekurangan kemampuan fisik. Soekanto (1993) dalam ‘Kamus Sosiologi’ menyebutkan pula adanya prasangka kelas, yakni sikap-sikap diskriminatif terselubung terhadap gagasan atau perilaku kelas tertentu. Prasangka ini ada pada kelas masyarakat tertentu dan dialamatkan pada kelas masyarakat lain yang ada didalam masyarakat. Sudah jamak kelas atas berprasangka terhadap kelas bawah, dan sebaliknya kelas bawah berprasangka terhadap kelas atas. Sebagai contoh, jika kelas atas mau bergaul dengan kelas bawah maka biasanya kelas atas oleh kelas bawah dicurigai akan memanfaatkan mereka. Bila kelas bawah bergaul dengan kelas atas dikira oleh kelas atas akan mencuri dan sebagainya.
Sebagai sebuah sikap, prasangka mengandung tiga komponen dasar sikap yakni:
a)      perasaan (feeling), Perasaan yang umumnya terkandung dalam prasangka adalah perasaan negatif atau tidak suka bahkan kadangkala cenderung benci.
b)      kecenderungan untuk melakukan tindakan (Behavioral tendention), Kecenderungan tindakan yang menyertai prasangka biasanya keinginan untuk melakukan diskriminasi, melakukan pelecehan verbal seperti menggunjing, dan berbagai tindakan negatif lainnya.
c)      adanya suatu pengetahuan yang diyakini mengenai objek prasangka (beliefs), pengetahuan mengenai objek prasangka biasanya berupa informasi-informasi, yang seringkali tidak berdasar, mengenai latar belakang objek yang diprasangkai.

Prasangka merupakan salah satu penghambat terbesar dalam membangun hubungan antar individu yang baik (Myers, 1999). Bisa dibayangkan bagaimana hubungan interpersonal yang terjadi jika satu sama lain saling memiliki prasangka, tentu yang terjadi adalah ketegangan terus menerus. Padahal sebuah hubungan antar pribadi yang baik hanya bisa dibangun dengan adanya kepercayaan, dan dengan adanya prasangka tidak mungkin timbul kepercayaan. Sehingga adalah muskil suatu hubungan interpersonal yang baik bisa terbangun. Dalam konteks lebih luas, kegagalan membangun hubungan antar individu yang baik sama artinya dengan kegagalan membangun masyarakat yang damai.
Menurut Poortinga (1990) prasangka memiliki tiga faktor utama yakni:
a)      stereotip, Stereotip adalah kombinasi dari ciri-ciri yang paling sering diterapkan oleh suatu kelompok tehadap kelompok lain, atau oleh seseorang kepada orang lain (Soekanto, 1993). Secara lebih tegas Matsumoto (1996) mendefinisikan stereotip sebagai generalisasi kesan yang kita miliki mengenai seseorang terutama karakter psikologis atau sifat kepribadian.
b)      jarak sosial, Jarak sosial adalah suatu jarak psikologis yang terdapat diantara dua orang atau lebih yang berpengaruh terhadap keinginan untuk melakukan kontak sosial yang akrab. Jauh dekatnya jarak sosial seseorang dengan orang lain bisa dilihat dari ada atau tidaknya keinginan-keinginan berikut :
Ø  Keinginan untuk saling berbagi,
Ø  Keinginan untuk tinggal dalam pertetanggaan,
Ø  Keinginan untuk bekerja bersama,
Ø  Keinginan yang berhubungan dengan pernikahan.dan sikap diskriminasi.
c)      Diskriminasi, Diskriminasi adalah perilaku menerima atau menolak seseorang semata-mata berdasarkan keanggotaannya dalam kelompok (Sears, Freedman & Peplau,1999).


BAB III

PENUTUP


1.      Kesimpulan
Penjelasan diatas sudah bisa menggambarkan bagaimana persepsi intrapersonal itu terjadi melalui komunikasi intrapersonal. Komunikasi intrapersonal menguraikan bagaimana seorang individu menerima informasi, mengolahnya, menyimpannya, dan menghasilkannya kembali, yang melalui tahap-tahap proses sensasi, asosiasi, persepsi, memori, dan berfikir.
Adapun prasangka adalah salah satu hal yang muncul dari persepsi intrapersonal itu sendiri. Ketiga faktor yang disebutkan diakhir penjelasan prasangka tidak dapat terpisahkan dalam prasangka. Stereotip memunculkan prasangka, lalu karena prasangka maka terjadi jarak sosial, dan setiap orang yang berprasangka cenderung melakukan diskriminasi. Sementara itu Sears, Freedman & Peplau (1999) menggolongkan prasangka, stereotip dan diskriminasi sebagai komponen dari antagonisme kelompok, yaitu suatu bentuk oposan terhadap kelompok lain. Stereotip adalah komponen kognitif dimana kita memiliki keyakinan akan suatu kelompok. Prasangka sebagai komponen afektif dimana kita memiliki perasaan tidak suka. Dan, diskriminasi adalah komponen perilaku.


DAFTAR PUSTAKA


Hardjana, Agus M. 2003. Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal. Yogyakarta: Penerbit Kanisius (Anggota IKAPI).
Shahizan. 2003. Intrapersonal & Interpersonal Untuk Remaja. Percetakan Zafar.
West, Richard. 2008. Pengantar Teori Komunikasi, Analisis & Aplikasi. Jakarta: Salemba Humanika
jurusankomunikasi.blogspot.com/.../komunikasi-intrapersonal.html




No comments:

Post a Comment